Partai Hanura mendorong perubahan sistem pemilu legislatif menjadi sistem kombinasi antara proporsional terbuka dan tertutup. Gagasan ini dinilai dapat memberi ruang bagi partai untuk menempatkan kader terbaik sekaligus tetap membuka peluang caleg meraih kursi melalui suara terbanyak.
Hal itu disampaikan Ketua Tim Task Force DPP Partai Hanura sekaligus Wakil Ketua Umum Hanura, Patrice Rio Capella, usai konsolidasi tim Task Force di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam, Selasa (11/8/2026).Patrice menilai sistem pemilu saat ini terlalu menyerupai “pasar bebas”, sehingga kader yang telah lama berproses di partai dapat tersingkir oleh calon yang memiliki modal lebih besar.
“Selama ini pemilu itu seperti pasar bebas. Orang yang bagus, aktivis di partai, mungkin bagus, hanya kalah pada modal atau kapital,” kata Patrice. Menurutnya, sistem kombinasi dapat memberikan kewenangan kepada partai untuk menentukan calon unggulan, namun tetap memberi kesempatan kepada caleg lain untuk memperoleh kursi berdasarkan perolehan suara.
“Berikan kesempatan kepada partai politik untuk mengedepankan calon-calon yang berkualitas dari partainya, tanpa menutup juga peluang untuk orang berjuang mendapatkan kursi tambahan yaitu dengan urutan suara terbanyak,” ujarnya.
Patrice mencontohkan, jika sebuah partai memperoleh dua kursi, satu kursi dapat diberikan kepada calon unggulan yang ditetapkan partai, sedangkan kursi berikutnya ditentukan berdasarkan suara terbanyak.
Ia menilai mekanisme tersebut dapat mendorong kader untuk membesarkan partai sebelum maju sebagai caleg, bukan berpindah-pindah partai hanya dengan mengandalkan kekuatan finansial.
“Bukan kemudian dia bisa pindah-pindah antarpartai politik hanya dengan mengandalkan uang yang banyak. Saya pikir itu juga bikin demokrasi kita kurang sehat,” tegasnya.
Hanura, kata Patrice, siap memperjuangkan gagasan tersebut bersama partai-partai nonparlemen. Selain parliamentary threshold, perubahan sistem penentuan calon terpilih juga dinilai perlu masuk dalam pembahasan revisi regulasi pemilu.
Patrice menegaskan sistem kombinasi tersebut bukan hanya menguntungkan Hanura, tetapi seluruh partai politik karena menciptakan keseimbangan antara peran partai dan perjuangan caleg.
“Saya pikir tidak hanya Hanura yang untung, tapi semua partai. Artinya tidak membuka secara seperti pasar bebas, juga tidak menutup seperti zaman Orde Baru,” pungkasnya.
Tag Berita