Konsolidasi internal Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memasuki tahap penguatan organisasi. Tim Task Force Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hanura bersama jajaran DPD dan DPC se-Kepri menggelar konsolidasi dan rapat teknis di Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam, Selasa (11/8/2026).
Tim Task Force DPP Hanura dipimpin Ketua Patrice Rio Capella, didampingi Sekretaris Hanurani dan Koordinator Teknis Yossie Indra P. Turut bergabung Indah Sri Rezeki, Ratna E. Ltobing, Togar M. Nero, Yoseph L. Raja, Che Reihan Capella serta Ketua Umum DPP Laskar Muda Hanura (Lasmura), Heru Margi Pangestu. Sementara dari tingkat DPD Hanura Kepri, hadir Ketua Ady Hermawan, Sekretaris Rudi Chua, dan Bendahara Tumbur Hutasoit.Ketua Tim Task Force DPP Partai Hanura, H. Patrice Rio Capella, menegaskan pentingnya penguatan struktur dan konsolidasi kader sebagai modal utama Partai Hanura menghadapi Pemilu 2029. Menurut Patrice, partai politik tidak akan mampu meraih kemenangan apabila kekuatan pasukannya tidak disusun sejak jauh-jauh hari.
Karena itu, seluruh kader diminta tidak hanya bekerja menjelang pemilu, tetapi mulai membangun struktur partai dari sekarang. “Tidak ada partai yang bisa menang kalau pasukannya tidak disusun. Yang ada itu hanya seorang caleg bekerja mati-matian untuk merapatkan kursi dan pilihnya,” kata Patrice. Ia menilai, kekuatan partai harus dibangun melalui struktur organisasi yang lengkap hingga tingkat bawah. Penguatan tersebut, menurutnya, menjadi jawaban untuk menghadapi tantangan politik menuju Pemilu dan Pilkada 2029.
Patrice juga menyoroti pentingnya peran DPC dan PAC dalam memperkuat basis partai. Ia mencontohkan kondisi ketika seorang ketua DPC hanya berfokus pada perolehan satu kursi. Menurutnya, jika struktur partai diperkuat, peluang untuk mendapatkan lebih banyak kursi sekaligus membuka jalan bagi kader untuk masuk ke eksekutif akan semakin besar. “Ini kesempatan bagi kader kita untuk masuk ke eksekutif. Tanpa kita menjadi bagian, sama,” katanya.
Ia menjelaskan, konsolidasi tidak cukup hanya dilakukan dengan membentuk struktur formal. Partai juga harus memperbanyak keanggotaan dan memastikan keberadaan kader benar-benar terlihat di tengah masyarakat. Salah satunya dengan membangun ranting dan melakukan pendataan anggota melalui Kartu Tanda Anggota (KTA). “Yang diperbanyak masukan itu di tiga ranting. Misalnya Ibu Ketua di Tanjung Bina, rantingnya yang tim-tim pendukung kita jadikan ranting. Bikinkan KTA,” ujarnya.
Ia mengatakan, penguatan struktur hingga tingkat bawah merupakan strategi yang pernah dilakukan dan terbukti mampu membesarkan partai dari kondisi yang sebelumnya tidak diperhitungkan. “Saya mau contohkan ini, agar itu tidak membuat kita. Kita punya kursi banyak di sini,” katanya.
Patrice kemudian menceritakan pengalamannya ketika membangun sebuah partai yang pada awalnya diragukan banyak pihak. Saat itu, kata dia, tidak banyak tokoh yang bergabung sehingga peluang partai tersebut untuk lolos dan mendapatkan kursi dinilai kecil. Namun, melalui pembangunan struktur hingga tingkat bawah, partai tersebut akhirnya mampu memperoleh kursi. “Semua meragukan, ‘wah, nggak mungkin partai baru bisa lolos, Pak.’ Syaratnya nggak ada jalan lain. Struktur dilatih sampai ke bawah, per kecamatan, ada di rantingnya. Dan orang nggak percaya,” tuturnya.
Menurut Patrice, pola serupa dapat diterapkan untuk membesarkan Hanura. Bahkan, ketika dilakukan pengecekan di sejumlah wilayah, keberadaan kader dan pengurus harus benar-benar dapat dibuktikan. “Itu cara membesarkan partai. Jadi musuh terbesar Hanura ini adalah malasnya para kader. Tidak serius membangun partai. Tidak peduli dengan partainya,” tegasnya. Ia mengingatkan, membangun kekuatan partai tidak dapat dilakukan hanya enam bulan menjelang pemilu. “Tidak ada kemenangan itu dikerjakan hanya enam bulan sebelum pemilu. Nggak ada. Beda kalau sekadar Pak Ketua DPD mau jadi anggota DPRD, tiga bulan bisa. Tapi memenangkan partai sekecil ini, tidak. Harus dikerjakan dari sekarang,” katanya.
Patrice juga meminta para kader aktif memperkenalkan keberadaan partai di lingkungan masing-masing. Menurutnya, pemasangan atribut atau papan nama partai di sekretariat maupun struktur organisasi dapat menjadi salah satu cara menunjukkan bahwa Hanura memiliki kekuatan hingga tingkat bawah. “Pasang plangnya. Kader-kader di tiga PKC, jangan tempel di rumah. Supaya orang lain lihat itu. Itu membuat lawan politik kita jadi ragu terhadap partai ini dan pemilu mungkin bisa besar,” ujarnya.
Di sisi lain, Patrice menyadari dalam proses membesarkan organisasi tidak semua kader mampu mengikuti perkembangan dan target yang telah ditetapkan. Karena itu, ia menegaskan perlunya evaluasi terhadap kader yang tidak menunjukkan komitmen dalam membangun partai. “Dalam perjuangan itu, pasti ada yang tersisa, pasti ada yang terlambat, nggak peduli, yang nggak bisa seprogresif. Maka tidak ada pilihan lain, saudara sekalian. Berhentikan atau pecat kader sendiri dari partai,” pungkasnya.
Tag Berita